Bukan Sekadar Teknologi: Mengurai Kunci Keberhasilan Holistik dalam Digital Transformation
- kontenilmukeu
- Nov 19, 2025
- 11 min read

Pengantar: Mengapa Transformasi Digital (TD) Lebih dari Sekadar Adopsi Teknologi
Banyak perusahaan berpikir, "Transformasi Digital (TD) itu mudah, tinggal beli software baru, pasang aplikasi, selesai!" Pemikiran ini adalah kesalahan besar. TD yang sebenarnya jauh lebih kompleks daripada sekadar mengganti sistem lama dengan sistem yang lebih canggih. TD bukan hanya masalah teknologi, tapi masalah bisnis, budaya, dan manusia.
Coba bayangkan Anda membeli mobil sport terbaru. Mobil itu punya mesin canggih dan kecepatan luar biasa. Tapi, jika pengemudinya (karyawan Anda) tidak dilatih cara mengendalikan mobil itu, jika peraturan lalu lintasnya (proses bisnis lama) masih kaku, dan jika tujuannya (visi perusahaan) tidak jelas, mobil itu tidak akan bisa berjalan maksimal. Malah bisa celaka.
Inti dari Transformasi Digital adalah merombak total cara kerja perusahaan untuk menciptakan nilai baru bagi pelanggan, didorong oleh teknologi. Tujuan akhirnya bukan sekadar punya teknologi, tapi menjadi perusahaan yang lebih adaptif, efisien, dan fokus pada pelanggan.
Mengapa ia lebih dari sekadar teknologi? Karena teknologi hanyalah alat. Cloud computing, Artificial Intelligence (AI), atau Big Data tidak akan berguna jika:
Budaya perusahaan menolak perubahan (karyawan takut atau menolak belajar hal baru).
Proses bisnis yang kuno (prosedur yang bertele-tele dan tidak diubah, hanya dipindahkan ke dalam software baru).
Kepemimpinan tidak memiliki visi jangka panjang dan tidak mendukung upaya perubahan secara konsisten.
Perusahaan yang gagal dalam TD seringkali fokus pada pembelian teknologi termahal, namun mengabaikan investasi pada pelatihan sumber daya manusia dan penyederhanaan proses. Mereka hanya melakukan digitalisasi (mengubah format kertas menjadi digital), bukan transformasi (mengubah cara berpikir dan bekerja). Oleh karena itu, kunci keberhasilan TD adalah pendekatan yang holistik, menyentuh setiap aspek organisasi, bukan hanya bagian IT saja.
Pilar Utama TD: Budaya, Proses, dan Teknologi
Keberhasilan Transformasi Digital (TD) berdiri di atas tiga pilar utama yang harus diperhatikan secara seimbang. Jika salah satu pilar ini lemah, fondasi TD Anda akan goyah. Ketiga pilar tersebut adalah Budaya, Proses, dan Teknologi.
1. Budaya (People & Mindset):
Ini adalah pilar yang paling sulit diubah. Budaya digital berarti tim harus memiliki pola pikir terbuka terhadap perubahan, berani mengambil risiko (terukur), fokus pada data, dan mengutamakan pelanggan (customer centric). Tanpa budaya ini, karyawan akan menganggap teknologi baru sebagai ancaman, bukan peluang. Budaya digital membutuhkan kepemimpinan yang mendorong kolaborasi, learning by doing, dan toleransi terhadap kegagalan kecil sebagai bagian dari pembelajaran. Perubahan mindset ini harus didorong dari atas ke bawah, menjadikannya bagian dari DNA perusahaan.
2. Proses (Optimization & Agility):
Banyak perusahaan melakukan kesalahan dengan hanya memindahkan proses yang rumit dan tidak efisien ke sistem digital. Hasilnya? Proses yang rumit itu tetap rumit, hanya saja sekarang sudah digital. Transformasi yang benar harus diawali dengan rekayasa ulang proses bisnis. Proses harus disederhanakan, diotomatisasi, dan dibuat lincah (agile). Tujuannya adalah menghilangkan hambatan birokrasi, mempercepat pengambilan keputusan, dan memungkinkan tim merespons perubahan pasar dengan cepat. Proses yang sudah "bersih" baru kemudian dipasang pada teknologi yang tepat.
3. Teknologi (Tools & Infrastructure):
Teknologi adalah alat yang memungkinkan Budaya dan Proses bekerja. Pilar ini mencakup infrastruktur seperti cloud computing, data analytics, Artificial Intelligence (AI), dan sistem otomatisasi. Pilihan teknologi harus didasarkan pada kebutuhan strategis perusahaan, bukan karena sedang tren. Infrastruktur teknologi harus bersifat fleksibel dan terintegrasi sehingga semua departemen bisa bekerja sama dengan mulus dan data bisa mengalir bebas, memungkinkan pengambilan keputusan berbasis bukti.
TD hanya akan sukses jika ketiga pilar ini saling mendukung. Teknologi canggih tanpa proses yang efisien dan budaya yang terbuka hanya akan menjadi beban mahal.
Membangun Visi dan Kepemimpinan yang Mendukung TD
Transformasi Digital (TD) bukanlah proyek sampingan di departemen IT; itu adalah inisiatif strategis yang harus dipimpin oleh manajemen puncak. Visi dan kepemimpinan yang kuat adalah mesin penggerak yang menentukan apakah TD akan berjalan atau malah mati di tengah jalan. Tanpa komitmen dari atas, perubahan budaya dan proses tidak akan pernah terjadi.
Peran Visi yang Jelas:
Visi TD harus menjawab pertanyaan, "Seperti apa perusahaan kita dalam lima tahun ke depan berkat teknologi ini?" Visi ini tidak boleh hanya tentang efisiensi, tetapi harus tentang nilai baru bagi pelanggan. Misalnya, bukan sekadar "kita harus punya aplikasi," tetapi "kita akan menjadi perusahaan yang memberikan layanan personal dan super cepat kepada pelanggan melalui aplikasi terintegrasi." Visi ini harus dikomunikasikan secara konsisten dan meyakinkan ke seluruh lapisan organisasi, memberikan alasan yang kuat mengapa setiap orang harus mau berubah.
Peran Kepemimpinan:
Kepemimpinan harus menjadi role model dan champion bagi TD.
Komitmen Sumber Daya: Pemimpin harus mengalokasikan anggaran yang cukup, tidak hanya untuk software, tetapi juga untuk pelatihan, pengembangan keterampilan, dan manajemen perubahan.
Mengubah Struktur Organisasi: Kepemimpinan harus berani merombak struktur yang kaku, mendorong pembentukan tim lintas fungsional (cross-functional team), dan mendelegasikan pengambilan keputusan yang lebih cepat kepada tim operasional.
Mengelola Risiko dan Kegagalan: TD pasti melibatkan risiko dan kegagalan. Pemimpin yang baik menciptakan lingkungan yang aman untuk bereksperimen. Mereka harus merayakan pembelajaran dari kegagalan, bukan menghukum.
Menunjuk Chief Digital Officer (CDO) atau Transformation Lead: Perlu ada seseorang di level manajemen senior yang fokus penuh untuk memimpin inisiatif TD, memastikan semua pilar berjalan selaras dan mengatasi hambatan birokrasi.
Dengan visi yang jelas dan kepemimpinan yang berani mengambil risiko serta memimpin perubahan budaya, TD akan memiliki arah yang pasti dan kekuatan pendorong yang tak tergoyahkan.
Strategi Mengubah Proses Bisnis Lama Menjadi Lebih Efisien Secara Digital
Salah satu hambatan terbesar dalam Transformasi Digital (TD) adalah proses bisnis lama yang sudah mengakar, rumit, dan penuh birokrasi. Strategi TD yang sukses harus berfokus pada mengubah, menyederhanakan, dan mengotomatisasi proses ini, alih-alih hanya mendigitalkan kerumitan yang sudah ada.
Langkah-langkah Strategis Mengubah Proses:
Audit dan Pemetaan Proses (As-Is vs. To-Be):
Langkah pertama adalah memetakan semua proses bisnis saat ini (As-Is), mulai dari awal hingga akhir, dan mengidentifikasi bottleneck (hambatan) serta langkah-langkah yang tidak memberikan nilai tambah.
Kemudian, rancang proses baru (To-Be) yang ideal. Tanyakan: "Jika kita bisa mulai dari nol, bagaimana proses ini seharusnya berjalan secara digital?"
Prinsip Lean dan Sederhanakan:
Sebelum diotomatisasi, proses harus disederhanakan (prinsip Lean). Hapus persetujuan yang tidak perlu, hilangkan langkah ganda, dan dorong self-service untuk pelanggan. Jangan gunakan teknologi untuk menyelesaikan proses yang buruk; gunakan teknologi untuk menerapkan proses yang sudah disederhanakan.
Prioritaskan Dampak (Quick Wins):
Mulailah transformasi proses dari area yang paling banyak berinteraksi dengan pelanggan atau yang paling tidak efisien, dan yang bisa memberikan hasil cepat (quick wins). Keberhasilan kecil di awal akan membangun momentum dan mendapatkan dukungan dari karyawan dan manajemen.
Otomatisasi Cerdas (Intelligent Automation):
Otomatisasi harus fokus pada tugas-tugas berulang dan berbasis aturan (seperti entri data, pembuatan laporan dasar) menggunakan Robotic Process Automation (RPA).
Untuk proses yang lebih kompleks dan membutuhkan pengambilan keputusan, gunakan Artificial Intelligence (AI) dan Machine Learning untuk memberikan rekomendasi atau memprediksi hasil, membebaskan karyawan untuk fokus pada pekerjaan yang membutuhkan kreativitas dan interaksi manusia.
Integrasi Lintas Fungsional:
Proses baru harus menghilangkan "silo" antar departemen. Misalnya, proses penjualan harus terintegrasi langsung dengan sistem inventori dan after-sales service. Teknologi harus menjadi alat yang menghubungkan, bukan memisahkan.
Dengan strategi ini, TD akan menghasilkan efisiensi operasional nyata, mengurangi biaya, dan yang paling penting, mempercepat waktu layanan kepada pelanggan.
Mengelola Aspek Sumber Daya Manusia dan Keterampilan Digital Tim
Transformasi Digital (TD) pada dasarnya adalah transformasi manusia. Kunci keberhasilannya terletak pada bagaimana perusahaan mengelola aspek Sumber Daya Manusia (SDM) dan memastikan tim memiliki keterampilan digital yang dibutuhkan. Teknologi baru hanya akan efektif jika ada orang yang mampu menggunakannya secara maksimal.
Tantangan SDM dalam TD:
Ketakutan dan Penolakan Karyawan: Karyawan seringkali takut pekerjaannya akan digantikan oleh otomatisasi. Jika rasa takut ini tidak dikelola, akan terjadi penolakan massal terhadap sistem baru.
Kesenjangan Keterampilan (Skill Gap): Keterampilan yang dibutuhkan di masa depan (analitik data, cloud management, AI/ML) sangat berbeda dengan keterampilan yang dimiliki karyawan saat ini.
Strategi Mengelola SDM dan Keterampilan Digital:
Manajemen Perubahan yang Kuat (Change Management):
Komunikasi: Jelaskan secara transparan bahwa TD bertujuan untuk "mengubah pekerjaan" (membuatnya lebih bernilai dan strategis), bukan "menghilangkan pekerjaan." Fokus pada peluang, bukan ancaman.
Partisipasi: Libatkan karyawan dalam proses desain sistem baru sejak awal. Ini menumbuhkan rasa kepemilikan.
Program Pelatihan dan Pengembangan Keterampilan (Reskilling & Upskilling):
Reskilling: Melatih karyawan lama untuk beralih ke peran baru yang berbasis digital (misalnya, staf data entry dilatih menjadi analis data).
Upskilling: Meningkatkan keterampilan digital karyawan di peran yang ada (misalnya, tim pemasaran dilatih menggunakan alat pemasaran berbasis AI).
Anggaran untuk pelatihan harus dianggap sebagai investasi strategis, bukan pengeluaran.
Menciptakan Budaya Pembelajaran Berkelanjutan:
Dorong karyawan untuk selalu belajar dan bereksperimen. Sediakan platform e-learning internal, mentorship, dan waktu khusus di luar jam kerja untuk belajar keterampilan baru.
Rekrutmen Strategis:
Rekrut talenta baru dengan keterampilan digital inti (seperti data scientist, engineer) untuk mengisi kesenjangan keterampilan yang tidak bisa dipenuhi melalui pelatihan internal.
Dengan berinvestasi pada manusia, perusahaan memastikan bahwa mereka tidak hanya memiliki alat digital yang hebat, tetapi juga tim yang cerdas, adaptif, dan siap menggunakan alat tersebut untuk mendorong inovasi bisnis.
Studi Kasus 1: TD yang Berhasil Menciptakan Keunggulan Kompetitif
TD yang sukses adalah ketika teknologi tidak hanya memecahkan masalah internal, tetapi juga menjadi keunggulan kompetitif yang sulit ditiru oleh pesaing. Contoh terbaik dari keberhasilan ini adalah perusahaan yang berhasil mengubah proses mereka secara radikal untuk memberikan nilai unik kepada pelanggan.
Studi Kasus: Perusahaan Ritel Pakaian yang Mengintegrasikan Online dan Offline
Bayangkan sebuah perusahaan ritel pakaian yang dulunya hanya mengandalkan toko fisik dan penjualan musiman.
Langkah TD yang Dilakukan:
Mengintegrasikan Data Online dan Offline: Mereka menggabungkan data transaksi pelanggan di toko fisik dengan riwayat belanja di e-commerce menjadi satu profil pelanggan tunggal. Data ini dianalisis menggunakan machine learning.
Transformasi Proses Inventori dan Logistik: Stok inventori toko fisik dan gudang online disatukan. Toko fisik juga berfungsi sebagai mini-warehouse dan pusat pengembalian barang (return center).
Layanan Pelanggan Personal: Berdasarkan analisis data, sistem dapat memprediksi gaya, ukuran, dan preferensi harga setiap pelanggan.
Hasil dan Keunggulan Kompetitif:
Hyper-Personalization: Ketika pelanggan masuk ke toko fisik atau membuka aplikasi, mereka menerima rekomendasi pakaian yang sangat akurat, bahkan e-mail berisi kupon diskon untuk barang yang sering mereka lihat. Ini meningkatkan conversion rate (tingkat pembelian).
Pengalaman Omnichannel yang Mulus: Pelanggan bisa memesan online, mengambilnya di toko (BOPIS – Buy Online, Pick-up In Store), mencoba di sana, dan bahkan mengembalikan barang yang dibeli online di toko fisik. Ini menghilangkan hambatan antara belanja online dan offline.
Kecepatan Merespons Tren: Data real-time dari aplikasi dan interaksi di toko memungkinkan perusahaan mengidentifikasi tren warna atau model yang sedang naik daun hanya dalam hitungan hari. Proses produksi bisa disesuaikan dengan cepat (fast fashion yang lebih cerdas), mengurangi risiko penumpukan stok mati.
Efisiensi Logistik: Dengan toko yang berfungsi sebagai pusat distribusi, biaya pengiriman turun dan kecepatan sampai ke tangan pelanggan meningkat drastis.
Perusahaan ini tidak hanya menjual pakaian, tetapi menjual pengalaman belanja yang cerdas dan mulus. Keunggulan kompetitif ini sulit ditiru oleh pesaing yang masih memiliki sistem dan proses yang terpisah antara online dan offline.
Studi Kasus 2: Faktor Kegagalan Utama dalam Proyek TD Berskala Besar
Sayangnya, tingkat kegagalan dalam proyek Transformasi Digital (TD) berskala besar cukup tinggi. Kegagalan ini jarang disebabkan oleh teknologi yang jelek, melainkan oleh faktor manajemen dan budaya. Memahami faktor-faktor ini adalah kunci untuk menghindari nasib yang sama.
Faktor Kegagalan Utama TD:
Gagal Mengubah Budaya (The People Problem):
Resistensi Karyawan: Karyawan lama menolak untuk mengadopsi sistem baru, merasa nyaman dengan cara kerja lama, atau menganggap TD hanya akan menambah beban kerja.
Kepemimpinan Setengah Hati: Pemimpin hanya mendukung secara lisan tetapi tidak mengalokasikan sumber daya yang memadai, atau tidak berani menegur manajer yang menolak perubahan.
Ketiadaan Change Management: Perusahaan terlalu fokus pada instalasi software dan melupakan pentingnya komunikasi, pelatihan, dan dukungan psikologis bagi tim yang sedang beradaptasi.
Gagal Merombak Proses Bisnis:
Menggali Lubang Lama Lebih Dalam: Perusahaan hanya mendigitalkan proses yang sudah buruk. Misalnya, sistem persetujuan yang tadinya butuh 7 tanda tangan di kertas, kini butuh 7 e-mail persetujuan. Tidak ada penyederhanaan fundamental.
Visi yang Kabur: Proyek TD dimulai tanpa definisi yang jelas tentang Key Performance Indicators (KPI) yang ingin dicapai atau tanpa pemahaman mendalam tentang masalah yang ingin diselesaikan pelanggan.
Pendekatan "Big Bang" dan Infrastruktur yang Kaku:
Coba Mengubah Segalanya Sekaligus: Proyek TD yang terlalu ambisius dan mencoba mengubah semua sistem dan departemen dalam satu waktu (Big Bang) cenderung gagal karena terlalu kompleks, memakan waktu lama, dan menguras sumber daya.
Teknologi "Black Box": Membeli sistem yang mahal dan tertutup yang tidak bisa diintegrasikan dengan sistem mitra atau sistem internal lainnya. Ini menciptakan "silo" data baru.
Mengabaikan Peran Data:
Gagal membersihkan data lama sebelum migrasi atau gagal menetapkan strategi data yang jelas. Sistem canggih yang diisi dengan data kotor (tidak akurat, tidak lengkap) hanya akan menghasilkan keputusan yang salah.
Pelajaran terbesar dari kegagalan TD adalah: Investasi pada manusia dan proses harus mendahului, atau setidaknya sejalan dengan, investasi pada teknologi. TD harus dimulai dari lantai atas (kepemimpinan) dan menyebar ke seluruh lapisan organisasi melalui budaya.
Peran Data dan Analitik sebagai Jantung Transformasi Digital
Jika teknologi adalah otot, maka data dan analitik adalah jantung dan otak dari Transformasi Digital (TD). TD yang sesungguhnya adalah perpindahan dari pengambilan keputusan berdasarkan intuisi atau pengalaman masa lalu, menjadi pengambilan keputusan yang berbasis data (data-driven).
Mengapa Data Begitu Penting?
Pencipta Nilai Baru: Data adalah bahan bakar untuk semua inovasi digital. Data tentang perilaku pelanggan, efisiensi operasional, dan tren pasar, jika dianalisis dengan benar, akan mengungkap peluang bisnis baru, area untuk pengurangan biaya, dan produk yang paling dicari.
Personalisasi Layanan: Dengan analitik canggih (Machine Learning), perusahaan dapat memahami kebiasaan unik setiap pelanggan dan memberikan layanan, rekomendasi, atau penawaran yang sangat personal. Ini sangat meningkatkan loyalitas dan penjualan (seperti di studi kasus ritel).
Real-Time Insight: TD memungkinkan pengumpulan dan analisis data secara real-time. Ini berarti manajemen bisa memantau kinerja operasional, mengidentifikasi masalah, dan mengambil tindakan korektif saat itu juga, bukan menunggu laporan akhir bulan.
Mendorong Otomatisasi Cerdas: Sistem otomatisasi (RPA, AI) hanya akan "pintar" jika mereka diberi data yang bersih dan relevan untuk belajar. Data yang akurat adalah prasyarat untuk otomatisasi yang efektif.
Strategi Mengelola Data:
Kualitas Data (Data Governance): Tetapkan aturan dan proses yang ketat untuk memastikan data yang dikumpulkan bersih, akurat, dan konsisten di seluruh sistem. Data yang buruk akan menghasilkan keputusan yang buruk.
Pusat Data Terintegrasi (Data Lake): Bangun platform sentral (seperti data lake atau data warehouse) yang mengumpulkan data dari semua sumber (CRM, ERP, website, media sosial) agar dapat dianalisis secara holistik tanpa adanya silo data.
Penyebaran Literasi Data: Pastikan tidak hanya data scientist yang bisa membaca data. Latih semua karyawan, mulai dari manajer hingga staf operasional, untuk memahami dan menggunakan dashboard serta insight data dalam pekerjaan sehari-hari mereka.
Dengan menjadikan data sebagai jantung organisasi, perusahaan mengubah dirinya menjadi entitas yang responsif, adaptif, dan mampu belajar secara berkelanjutan dari setiap interaksi.
Pengukuran dan Iterasi Progres Transformasi Digital
Transformasi Digital (TD) bukanlah tujuan akhir, melainkan sebuah perjalanan yang berkelanjutan. Oleh karena itu, keberhasilan tidak diukur dari seberapa banyak software yang sudah dibeli, tetapi dari progres dan dampak nyata yang diukur secara rutin. Pengukuran ini harus diikuti dengan iterasi (perbaikan bertahap) untuk memastikan investasi TD terus menghasilkan nilai.
Apa yang Harus Diukur (Metrik TD):
Pengukuran TD harus mencakup ketiga pilar utama (Budaya, Proses, dan Teknologi), serta dampaknya pada bisnis:
Metrik Dampak Bisnis (Bottom-Line Metrics):
Peningkatan Customer Satisfaction Score (CSAT) atau Net Promoter Score (NPS): Seberapa bahagia pelanggan dengan layanan digital yang baru?
Peningkatan Revenue dari Saluran Digital: Berapa persen pendapatan baru yang dihasilkan dari aplikasi, e-commerce, atau layanan digital lainnya?
Penurunan Cost of Service atau Cost of Acquisition: Berapa biaya yang dihemat berkat otomatisasi proses?
Metrik Efisiensi Proses (Process Metrics):
Time-to-Market (TTM) Produk Baru: Seberapa cepat perusahaan bisa meluncurkan produk atau layanan baru.
Cycle Time: Seberapa cepat proses tertentu diselesaikan (misalnya, waktu pemrosesan klaim asuransi).
Metrik Budaya dan SDM (People Metrics):
Digital Skill Score Karyawan: Nilai rata-rata keterampilan digital tim setelah pelatihan.
Adoption Rate Teknologi Baru: Berapa persen karyawan yang benar-benar menggunakan sistem baru yang diimplementasikan.
Employee Engagement Score: Seberapa termotivasi dan terlibat karyawan dalam proyek TD.
Proses Iterasi (Agile Approach):
TD yang sukses menggunakan pendekatan Agile atau iteratif:
Ukur: Kumpulkan data tentang metrik yang sudah ditetapkan.
Analisis: Cari tahu mengapa metrik tersebut naik atau turun.
Perbaiki (Iterasi): Lakukan perbaikan kecil, cepat, dan terfokus pada masalah yang paling mendesak, daripada menunggu proyek besar selesai.
Dengan mengadopsi siklus pengukuran dan iterasi ini, perusahaan memastikan bahwa TD mereka selalu relevan, memberikan nilai, dan mampu menyesuaikan diri dengan perubahan kebutuhan pasar. TD adalah tentang perbaikan konstan, bukan kesempurnaan di hari pertama.
Kesimpulan: TD sebagai Perjalanan Berkelanjutan Menuju Inovasi
Transformasi Digital (TD) bukanlah sebuah tren sementara atau proyek yang punya tanggal selesai. Sebaliknya, ini adalah perjalanan berkelanjutan yang mengubah cara perusahaan beroperasi, berpikir, dan menciptakan nilai. TD adalah proses reinvention yang tidak pernah berhenti, bergerak menuju inovasi yang terus menerus.
Poin-Poin Penting untuk Menggarisbawahi:
TD Adalah Pola Pikir, Bukan Proyek: Keberhasilan jangka panjang terletak pada kemampuan perusahaan untuk membangun budaya yang adaptif, di mana inovasi dan penggunaan teknologi menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, bukan inisiatif yang bersifat sementara.
Manusia Adalah Agen Perubahan: Investasi pada reskilling dan upskilling karyawan, serta manajemen perubahan yang efektif, adalah aset terpenting. Teknologi hanya akan memaksimalkan potensi tim yang cerdas dan termotivasi.
Data adalah Strategic Asset: Keputusan harus didorong oleh insight data, bukan lagi oleh intuisi. Peran data sebagai jantung organisasi harus terus diperkuat melalui tata kelola dan analitik canggih.
Keberlanjutan Melalui Iterasi: Dengan mengukur dampak TD secara rutin dan menggunakan pendekatan agile untuk perbaikan, perusahaan dapat memastikan bahwa mereka selalu berada di jalur yang benar dan mampu merespons disrupsi pasar dengan cepat.
Perusahaan yang berhasil melewati TD bukan hanya bertahan, tetapi juga menciptakan keunggulan kompetitif yang dominan, karena mereka menjadi lebih cepat, lebih cerdas, dan jauh lebih fokus pada pelanggan.
Oleh karena itu, tugas manajemen puncak adalah memastikan bahwa TD tertanam kuat dalam visi perusahaan dan didukung dengan sumber daya yang memadai. TD bukanlah sprint (lari cepat), melainkan marathon yang mengharuskan perusahaan untuk terus belajar, beradaptasi, dan berinovasi, memastikan bahwa mereka tetap relevan di tengah lanskap bisnis yang berubah dengan sangat cepat.

.png)



Comments